Dialektika tanpa mata

Standard

Disini aku mengadu pada malam, berusaha melepaskan penat yang kian hari mulai merayap.

Sayup bunyi kendaraan di kejauhan, aku tau mereka berkejaran.

“Malam”, sapaku, “Apa yang mereka kejar?” Tanyaku bisu.

“Mereka mengejar semu”, jawab malam.

“Mengapa begitu terburu-buru?”

“Entahlah, aku pun tidak tahu. Sekian lama aku menemani manusia, yang kulihat mereka hanya bisa memburu dan menunggu.” Ia mengedikkan bahu.
Aku mengernyit tak puas.

“Apa maksudmu?”

“Jawaban apa yang sebenarnya kau cari, sahabatku?” Malam balik menanyaiku.

Aku menengadah, berusaha memilih dalam kepalaku, apa yang akan kutanyakan kepada malam. Tapi terlalu banyak, aku ragu ingin mengajukan yang mana satu.

“Tenanglah gadis kecil”, gumamnya seakan tau pikiranku. “Semuanya akan baik-baik saja.”, Ia tersenyum.

“Benarkah malam?”, Aku tak percaya.

Sahabat malam, sang angin, datang dan berhembus perlahan mempermainkan anak rambutku. 

“Ya.”, Ujarnya. “Tenanglah, dan percaya. Itu akan banyak membantumu.”, Angin kini mengusap pelan dahiku.

“Malam, dan angin, maukah kalian menolongku?”

“Katakanlah gadis kecil”

“Aku memang tak pandai berpanjang dialektika, yang aku tahu kini aku rindu.”

“Baiklah, aku mengerti.”, Jawab angin dan malam mengangguk bersamaan.

Kini aku tenang. Malam masih menemaniku.

Sedangkan rindu itu, sudah kutitipkan pada sang bayu..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s